Perlukah CDD dalam Sebuah Bisnis?

Perlukah CDD Dalam Sebuah Bisnis?

Dalam dunia keuangan, dikenal istilah Customer Due Diligence (CDD). Apa itu CDD? Perlukah CDD dalam sebuah bisnis? Pertanyaan-pertanyaan ini umumnya sering muncul di benak para pengusaha. Faktanya, kebijakan Cutomer Due Diligence (CDD) ini memang cukup vital. Khususnya dalam hal mencegah terjadinya kasus pencucian uang (Money Laundering).

Berikut ini kami sudah merangkum beberapa informasi penting mengenai CDD untuk Anda.

  1. Apa Itu CDD?
  2. Proses Penerapan CDD
  3. Setelah Menerapkan CDD, Lakukan EDD
  4. Mengapa CDD Diperlukan?
  5. Resiko dan Sanksi Jika Tidak Menerapkan

Apa Itu CDD?

Dalam dunia keuangan, dikenal istilah Customer Due Diligence (CDD), ini merupakan sebuah elemen penting manajemen resiko pelanggan bagi sebuah perusahaan.

Menurut Bank Indonesia, CDD adalah kegiatan yang meliputi identifikasi, verifikasi, dan pemantauan yang dilakukan oleh pihak bank untuk memastikan bahwa transaksi tersebut sesuai dengan profil resiko calon nasabah, Walk in Customer, atau nasabah.

Di Indonesia, kasus pencucian hingga pendanaan terorisme masih sering terjadi. Masalahnya, jika bisnis Anda terlibat dalam kasus pidana tersebut, tentu akan berbahaya. Karena alasan inilah, CDD harus diterapkan demi mencegah hal tersebut.

CDD sudah ada aturannya. Sebagai contoh, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga sudah menerapkan peraturan bagi para penyedia jasa keuangan. Mereka harus menerapkan program APU PPT (Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme).  Yang dicek adalah penilaian risiko berupa mengidentifikasi dan mengecek risiko para nasabah atau konsumen

Nah, bagi para penyedia jasa keuangan, mereka harus mendokumentasikan penilaian risiko. Selain itu, Anda juga harus mempertimbangkan penilaian risiko. Intinya, penyedia jasa keuangan harus benar-benar mengenal siapa saja pengguna jasanya.

Ada beberapa hal yang harus diawasi oleh penyedia jasa keuangan. Sebagai contoh, mereka harus mengecek perkembangan produk hingga teknologi informasinya. Mereka juga harus benar-benar mengecek aktivias pengguna jasanya. Intinya, pastikan tidak ada celah untuk melakukan pencucian uang atau bahkan pendanaan terorisme.

Proses Penerapan CDD                                

Inti dari proses penerapan CDD ini adalah dengan melakukan Identifikasi, Verifikasi, dan Pemantauan nasabah dan bisnis yang dijalankannya sampai mendapatkan tingkat kepercayaan yang diinginkan. Proses CDD yang lebih serius akan dilakukan jika nasabah dianggap berisiko tinggi. Prosesnya meliputi:

1. Identifikasi Konsumen atau Nasabah

Perusahaan penyedia jasa keuangan harus mengidentifikasi konsumen atau nasabahnya dengan cara meminta informasi pribadi, seperti nama lengkap, kartu identitas, foto, dan akte kelahiran. Tentunya informasi ini harus valid dan bisa dipertanggungjawabkan keasliannya.

2. Mengecek Kepemilikan Penerima

Penerapan CDD juga harus melibatkan indentifikasi kepemilikan sebuah perusahaan atau bisnis yang meliputi struktural perusahaan/bisnis tersebut.

3. Hubungan Bisnis

Setelah dua hal tadi dilakukan, selanjutnya perusahaan juga harus mendapatkan informasi tentang seluk beluk tujuan dan jaringan bisnis yang akan mereka masuki.

Hal lain yang harus selalu diingat dalam proses penerapan CDD adalah selalu lakukan pengecekan ulang terhadap hal-hal yang mempunyai tingkat resiko tinggi dan dianggap mencurigakan.

Setelah Menerapkan CDD, Lakukan EDD!

EDD atau Enhanced Due Diligence adalah tindakan lanjutan dari CDD. Fungsinya adalah analisis lebih jauh dan mendalam tentang nasabah. Sumber dana nasabah, tujuan transaksi, hingga usaha para nasabah juga mendapatkan pengecekan lebih lanjut. Dalam prosesnya, EDD ini meliputi serangkaian tindakan seperti:

  1. Mendapatkan material lain sebagai hal pendukung untuk mengindentifikasi calon konsumen atau nasabah.
  2. Mencari sumber pendanaan, sumber kekayaan atau asset apa saja yang dimiliki oleh calon nasabah.
  3. Memahami sifat hubungan bisnis yang dimiliki nasabah dan tujuan transaksi yang sudah dilakukan.
  4. Menerapkan pemantauan berjalan atau ongoing monitoring.

Orang-orang atau calon nasabah yang dianggap perlu mendapatkan tindakan EDD, antara lain:

  1. Orang yang diberi kewenangan untuk melakukan fungsi penting oleh Negara lain atau disebut juga Politically Exposed Person (PEP). Baik PEP Domestik atau Asing harus mendapatkan perlakuan yang sama. Apalagi mereka mempunya fungsi penting dalam penyelenggaraan Negara,
  2. Keluarga dan atau orang-orang terdekat PEP, dan
  3. Orang-orang yang menjalankan fungsi besar dalam organisasi berskala internasional.

Mengapa CDD Diperlukan?

Setelah mengetahui proses penerapannya, Anda semakin tercerahkan mengenai Perlukah CDD dalam Sebuah Bisnis, bukan? Nah, CDD ini harus dilakukan oleh penyedia jasa keuangan di beberapa situasi berikut:

1. Hubungan Bisnis Baru

Perusahaan harus menerapkan prosedur CDD sebelum melakukan dan atau memperluas kerjasama bisnis barunya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui identitas konsumen dan dapat memenuhi profil resikonya.

2. Transaksi Secara Berkala

Ketika kegiatan transaksi dilakukan secara rutin dan berkala, disitulah penerapan CDD diperlukan. Dikarenakan proses transaksi ini mungkin juga melibatkan sejumlah uang dengan nominal tertentu dan konsumen bersiko tinggi di luar negeri.

3. Kecurigaan Adanya Pencucian Uang

Jika muncul tanda-tanda adanya aktivitas pencucian uang (money laundering), maka perusahaan harus segera menerapkan prosedur CDD.

4. Dokumentasi yang Meragukan

Jika saat proses identifikasi berkas-berkas milik konsumen tidak cukup lengkap dan terasa meragukan, maka disaat itulah perusahaan harus menerapkan CDD untuk memperoleh informasi yang valid.

Risiko dan Sanksi Jika Tidak Menerapkan

1) Resiko

Jika bisnis tidak menjalankan CDD, ternyata ada risiko dan sanksinya. Berikut adalah resiko-resiko tersebut :

  • Reputasi bisnis bisa jadi negatif. Hal ini tentu membuat kepercayaan nasabah berkurang.
  • Bisa mengalami kasus pencucian uang yang merugikan atau berpotensi memicu denda.
  • Berpotensi terkait dengan kasus hukum. Hal ini tentu akan merepotkan dan membahayakan kelanjutan bisnis.

2) Sanksi

Sementara itu, berikut adalah sejumlah sanksi yang bisa didapat jika bisnis tidak menerapkannya :

  • Bagi penyelenggara, sanksi paling ringan bisa berupa teguran tertulis. Sanksi lain adalah berupa denda atau pembatasan aktivitas usaha. Bahkan, yang cukup berat, bisa jadi akan ada penghentian aktivitas usaha. Penghentian ini bisa berupa sementara atau permanen.
  • Bagi para petinggi, akan dihadapkan dengan kasus hukum. Apalagi jika terbukti ada kasus pencucian uang atau pendanaan terorisme.

Sekarang Anda sudah paham seberapa pentingnya CDD dalam sebuh bisnis. Semoga informasi tadi bisa menambah wawasan Anda tentang CDD beserta cara penerapannya. Dengan begitu, Anda yang mempunyai bisnis bisa lebih siap untuk memulai dan membuat rencana bisnis Anda kedepan.

Jika Anda pernah mengalami penipuan dan mencurigai adanya bentuk penipuan, Anda bisa melaporkannya di sini. Dengan begitu Anda bisa membantu orang lain agar tidak ikut menjadi korban penipuan.

Apakah Anda mengetahui banyak tentang penerapan CDD? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar ya?

Sekian dan semoga bermanfaat!

Sumber: Espay CDD, Simulasi Kredit.

Baca Juga: Pengertian Bisnis Startup dan Ciri-Cirinya